Gudeg Manggar dan Isu Kuliner Perlawanan
Baru saja ini, saya menjumpai tulisan mengenai gudeg yang sedikit mengusik. Sama seperti yang sudah dijumpai, gudeg biasanya benar-benar memakai bahan landasan nangka muda (gori). Walau demikian, di Bantul dapat didapati gudeg memiliki bahan landasan putik bunga kelapa yang muda, atau wajar disebutkan manggar.
Pemakaian bahan landasan lain ini bukan satu permasalahan sebab pada intinya gudeg sebuah tehnik mengolah, nyaris sama dengan gulai atau tongseng. Namun, ada satu tulisan yang mengatakan jika gudeg manggar adalah "kulineran perlawanan". Konon, beberapa rakyat Bantul pada periode Perang Diponegoro menantang kekuasaan pemerintah yang Trick Menang Di Judi Sabung Ayam s388 pada saat itu mereka kira berpihak pada kebutuhan Hindia-Belanda. Entahlah ucapnya siapa. Kulineran perlawanan ini selanjutnya jadikan gudeg manggar jadi simbol kulineran ciri khas Bantul.
Nah, claim ini sebaiknya tidak langsung diterima demikian saja. Cerita yang ditempelkan dalam satu produk benar-benar sanggup tingkatkan citra produk itu. Dalam soal gudeg manggar ini, citranya makin eksotis. Tetapi, cerita ini pantas dikritisi supaya tidak ada kesimpangsiuran cerita yang ke arah pada hal yang semakin salah. Benarkah gudeg manggar adalah kulineran perlawanan?
Pertam kali, perlu kita tilik riwayat gudeg tersebut. Gudeg memang tidak kemungkinan dirunut sampai di titik pertama kali pembuatannya sebab minimnya dokumentasi. Walau demikian, dari perubahan gudeg tersebut perlu dicatat jika gudeg ialah makanan rakyat sebab resepnya nyaris tidak bisa didapati dalam resep-resep kraton. Pemakaian gudeg pada acara ritus juga tidak bisa didapati, jadikan gudeg satu kulineran tiada arti simbolik serta tidak bisa dihubungkan dengan lambang apa saja.
Ke-2 , agar bisa jadikan gudeg manggar selaku "kulineran perlawanan" dalam "perang" di antara rakyat Bantul dengan pemerintah (Kraton), perlu lah gudeg gori ini mempunyai status yang kuat lebih dulu di tempat Kraton hingga bisa merepresentasikan Kraton tersebut. Baru kemudian, gudeg gori bisa "ditantang" dengan gudeg manggar.
Permasalahannya ialah gudeg gori serta Kraton adalah dua hal yang lain. Gudeg gori pada periode itu bukan satu simbol kulineran kota Yogyakarta, sama seperti yang berlangsung di saat ini. Bahkan juga sampai tahun 1960-an, gudeg belum terlilit dengan nilai-nilai "ke-Yogyakarta-an".
Gudeg belum pasti dibuat di Yogyakarta loh… serta proses berlangsungnya ikonisasi gudeg di Yogyakarta bukan sebab dia dibuat di kota ini.
Gudeg pun tidak dibuat oleh Kraton serta bukan makanan yang diagungkan di Kraton. Ini bisa disaksikan dalam buku resep Kraton yang belum diketemukan resep gudeg gori didalamnya. Jadi untuk menyangkutkan jalinan di antara gudeg gori dengan kraton, perlu dicari hubungan yang lebih kuat. Dari pencarian saya, gudeg gori pada periode lalu ialah masakan rakyat yang dimakan bukan lantaran rasa atau lambangnya, tetapi sebab tuntutan hidup. Karenanya, gudeg sesungguhnya jadi makanan sehari-harinya di beberapa daerah lain di Jawa tengah, seperti Solo, Sragen, Magelang, sampai Purworejo.
Tidak seperti saat ini, pohon nangka pada periode lalu benar-benar gampang didapati. Sampai di tahun 1960-an juga (tahun di mana riwayat gudeg masih bisa terlacak), pohon nangka banyak tumbuh di pekarangan. Keberlimpahan buah nangka berikut yang jadikan nangka muda (atau gori) lalu banyak dimakan. Kerap kali selaku alternatif daging. Gudeg sendiri adalah satu langkah masak, lalu memakai gori selaku bahan intinya sebab banyak diketemukan di seputar rumahnya.
Melihat ke-2 hal itu saja, tempatkan gudeg manggar selaku perlawanan dari gudeg gori yang merepresentasikan pemerintah (Kraton), jadi hal yang aneh. Diperlukan bukti serta analisis selanjutnya dari sebatas "konon".
Jika dari hipotesa saya sendiri, munculnya gudeg manggar berkaitan dengan kreasi pemanfaantan bahan pangan di seputar warga Bantul, dalam rencana untuk tetap bertahan hidup juga.
Menggunting putik bunga kelapa yang muda adalah salah satunya langkah untuk menyuburkan pohon kelapa. Jika ada beberapa pohon kelapa yang tidak subur, karena itu cara yang perlu dikerjakan benar-benar menggunting putik bunga kelapa yang muda itu. Ini jadikan ada putik-putik bunga kelapa yang selanjutnya tidak akan dipakai.
Dari tersedianya bahan itu, kreasi tampil serta manggar juga dibuat jadi gudeg manggar. Sajian ini selanjutnya tidak setenar gudeg gori karena tersedianya manggar tidak semelimpah tersedianya gori.
